Berorganisasi kebutuhan
atau eksistensi?
Oleh : Tiaz Ncek
Belum lama ini usai sudah kita lalui agenda besar tahunan
di kampus UIN ini yakni Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan (PBAK). Dimana
beberapa orang menganggap PBAK ini dijadikan alat ‘politik’ oleh masing masing
organisasi untuk menunjukan eksitensinya, dimana Mahasiswa Baru (MABA) menjadi
objeknya. Tapi bukan ini yang menjadi topik utamanya, melainkan bagaimana kita
sebagai mahasiswa memandang Organisasi itu sebuah kebutuhan atau hanya sekedar
eksistensi?
organisasi adalah kesatuan (susunan) yang
terdiri atas bagian-bagian (orang) dalam perkumpulan untuk mencapai tujuan
tertentu : kelompok kerjasama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai
tujuan bersama. Singkatnya organisasi adalah sekumpulan orang yang terorganisir
dan mempunyai satu tujuan yang sama. Itu yang disebut organisasi, dari sini
kita sudah mengerti bahwa ketika berorganisasi kita memiliki teman yang lebih
banyak dan juga paham apa arti kebersamaan karena di organisasi kita diajarkan
bekerja sama untuk mencapai satu tujuan yang sama
Banyak yang
mengatakan bahwa menjadi aktivis menjadi organisatoris sama saja memperpanjang
barisan mahasiswa abadi atau semester tua. Inilah sesuatu yang harus diluruskan
bahwa penyebab lamanya mahasiswa mengenakan toga bukan karena organisatorisnya
karena dari mahasiswa itu sendiri. Jadi jangan meng-kambing hitamkan
organisasinya. Apakah ada hitam diatas putih melarang mahasiswa yang
beroganisasi lulus dengan waktu kuliah yang normal? Atau seorang organisatoris
wajib semester tua jika ingin diakui keabsahan berorganisasinya? Saya rasa
tidak ada satupun organisasi yang mengatakan seperti itu. Justru organisasi dan
akademisi itu sesuatu hal yang seharusnya integral. Seperti yang telah dianalogikan
oleh Nurcholis Madjid atau sapaan akrabnya Cak Nur seorang cendikiawan dan juga
ketua umum PB HMI. Ibaratnya hidung itu adalah mahasiswa dan lubang satunya
akademis kemudian satunya lagi organisasi, kita bisa bernafas ketika lubang
hidung organisasi ditutup akan tetapi akan terasa risih dan ada yang kurang
karena sejatinya akademisi dan organisasi suatu hal yang senafas dan sejalan
Saya bisa
menjamin dunia kampus anda akan lebih berwarna dan lebih hidup jiwa mahasiswa
ketika anda berorganisasi, karena diorganisasi banyak pelajaran yang kita dapat
dari yang paling manis sampai pahit sekalipun biarpun pahit tapi ini adalah
sebuah tantangan untuk mengubahnya menjadi manis. Konflik, masalah, perbedaan
pendapat? Itu pasti ada tapi disinilah kita diajarkan menyelsaikannya karena
organisasi tempat pendewasaan diri. Apa yang anda tidak dapatkan ketika anda
duduk dan mencatat dikelas akan anda dapatkan diorganisasi. Karena sesuai Tri
Dharma perguruan tinggi, mahasiswa harus mengabdi kepada masyarakat dan ilmu
mengabdi itu anda bisa dapatkan di organisasi. Karena pembekalan nanti ketika
anda akan terjun ke masyarakat itu ada di organisasi. Saya berani mengatakan
seperti ini karena saya menjadi pelaku bukan hanya sekedar pengamat.
Hampir semua
organisasi itu khususnya di UIN Syahid ini bagus, diorganisasi ekstranya pun
demikian. Seperti HMI, PMII, IMM dsb. Pasti organisasi tersebut memiliki misi
yang bagus dan tidak ada satupun dari organisasi tersebut mengajarkan ketidak
benaran, itu saya rasakan sendiri dan kebetulan saya adalah HMI. Kembali lagi
ke awal dimana momen PBAK dijadikan ajang adu eksistensi organ ekstra, rumah
yang bagus sekalipun pasti memiliki wc, cahaya terang pun memiliki bayang yang
hitam. Begitupun dengan kejadian ini dimana anggota dari organ ekstra itu yang
seharusnya disalahkan bukan organisasinya.
Jadi
berorganisasi itu bukan hanya sekedar ingin mengunjukan eksistensi kita akan
tetapi sebuah kebutuhan karena di organisasi kita diajarkan banyak hal dan apa
arti dari dunia ini. karena percayalah ketika terjun ke masyarakat nanti bukan
ipk mu yang ditanya bukan cepat atau tidaknya kamu lulus kuliah, melainkan
apakah kamu bisa membuat sebuah acara, bisakah kamu mengorganisir masyarakat,
bisakah kamu menjadi sebuah pemimpin dimasyarakat. Dan itu semua didapatkan di
organisasi. itu lebih tepatnya yang di butuhkan masyarakat ketimbang angka ipk
mu. Akan tetapi perlu digaris bawahi akademisi bukan suatu hal yang harus
dilupakan dan diabaikan, terlalu bodoh seorang organisatoris jikalau lebih
mengedepankan kesibukannya berorganisasi tanpa menyeimbangkannya dengan
akademisi dan perlu di pertanyakan sudah lulus atau belum berorganisasinya.
Karena kita selalu di tanamkan sikap professional dimana organisatoris bisa
memanage waktunya kapan harus kuliah dan kapan harus beroganisasi. Ikutilah
organisasi dikampus anda jangan pernah menilai sebelum masuk kedalamnya jangan
mengamini kata orang jika kita belum mencoba. Carilah organisasi yang besar
yang produktif minimal anda bisa melihat di jurusan anda masing masing
organisasi mana yang banyak diikuti oleh teman atau senior senior kalian,
karena jangan pernah bunuh diri, memasuki organisasi yang jarang diikuti.
Karena tidak ada asap tanpa api pasti ada penyebab mengapa organisasi itu
jarang diminati.
Musuh terbesar
mahasiswa di era ini ialah keapatisan mahasiwa terhadap organisasi. Jangan
sampai anda menjadi rombongan mahasiswa mahasiswa itu, konklusinya
berorganisasi itu kebutuhan bukan hanya sekedar eksistensi sana sini. Pilihlah
dengan hati kalian bukan dengan paksaan organisasi mana yang harus saya ikuti
dan lihatlah isi dari mahasiswanya membuat kalian termotivasi atau tidak.
Jangan pernah anda mau dibohongi senior senior anda cukup anda yang sendiri lah
yang bisa menentukan organisasi mana yang akan anda ikuti. Dan pesan saya
jangan pernah bunuh diri carilah organisasi yang menjamin anda tidak pada
ketidak jelasan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar