Sabtu, 03 November 2018

Berorganisasi Kebutuhan atau Eksistensi?


Berorganisasi kebutuhan atau eksistensi?
Oleh : Tiaz Ncek


          Belum lama ini usai sudah kita lalui agenda besar tahunan di kampus UIN ini yakni Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan (PBAK). Dimana beberapa orang menganggap PBAK ini dijadikan alat ‘politik’ oleh masing masing organisasi untuk menunjukan eksitensinya, dimana Mahasiswa Baru (MABA) menjadi objeknya. Tapi bukan ini yang menjadi topik utamanya, melainkan bagaimana kita sebagai mahasiswa memandang Organisasi itu sebuah kebutuhan atau hanya sekedar eksistensi?

          organisasi adalah kesatuan (susunan) yang terdiri atas bagian-bagian (orang) dalam perkumpulan untuk mencapai tujuan tertentu : kelompok kerjasama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama. Singkatnya organisasi adalah sekumpulan orang yang terorganisir dan mempunyai satu tujuan yang sama. Itu yang disebut organisasi, dari sini kita sudah mengerti bahwa ketika berorganisasi kita memiliki teman yang lebih banyak dan juga paham apa arti kebersamaan karena di organisasi kita diajarkan bekerja sama untuk mencapai satu tujuan yang sama
          Banyak yang mengatakan bahwa menjadi aktivis menjadi organisatoris sama saja memperpanjang barisan mahasiswa abadi atau semester tua. Inilah sesuatu yang harus diluruskan bahwa penyebab lamanya mahasiswa mengenakan toga bukan karena organisatorisnya karena dari mahasiswa itu sendiri. Jadi jangan meng-kambing hitamkan organisasinya. Apakah ada hitam diatas putih melarang mahasiswa yang beroganisasi lulus dengan waktu kuliah yang normal? Atau seorang organisatoris wajib semester tua jika ingin diakui keabsahan berorganisasinya? Saya rasa tidak ada satupun organisasi yang mengatakan seperti itu. Justru organisasi dan akademisi itu sesuatu hal yang seharusnya integral. Seperti yang telah dianalogikan oleh Nurcholis Madjid atau sapaan akrabnya Cak Nur seorang cendikiawan dan juga ketua umum PB HMI. Ibaratnya hidung itu adalah mahasiswa dan lubang satunya akademis kemudian satunya lagi organisasi, kita bisa bernafas ketika lubang hidung organisasi ditutup akan tetapi akan terasa risih dan ada yang kurang karena sejatinya akademisi dan organisasi suatu hal yang senafas dan sejalan
          Saya bisa menjamin dunia kampus anda akan lebih berwarna dan lebih hidup jiwa mahasiswa ketika anda berorganisasi, karena diorganisasi banyak pelajaran yang kita dapat dari yang paling manis sampai pahit sekalipun biarpun pahit tapi ini adalah sebuah tantangan untuk mengubahnya menjadi manis. Konflik, masalah, perbedaan pendapat? Itu pasti ada tapi disinilah kita diajarkan menyelsaikannya karena organisasi tempat pendewasaan diri. Apa yang anda tidak dapatkan ketika anda duduk dan mencatat dikelas akan anda dapatkan diorganisasi. Karena sesuai Tri Dharma perguruan tinggi, mahasiswa harus mengabdi kepada masyarakat dan ilmu mengabdi itu anda bisa dapatkan di organisasi. Karena pembekalan nanti ketika anda akan terjun ke masyarakat itu ada di organisasi. Saya berani mengatakan seperti ini karena saya menjadi pelaku bukan hanya sekedar pengamat.
          Hampir semua organisasi itu khususnya di UIN Syahid ini bagus, diorganisasi ekstranya pun demikian. Seperti HMI, PMII, IMM dsb. Pasti organisasi tersebut memiliki misi yang bagus dan tidak ada satupun dari organisasi tersebut mengajarkan ketidak benaran, itu saya rasakan sendiri dan kebetulan saya adalah HMI. Kembali lagi ke awal dimana momen PBAK dijadikan ajang adu eksistensi organ ekstra, rumah yang bagus sekalipun pasti memiliki wc, cahaya terang pun memiliki bayang yang hitam. Begitupun dengan kejadian ini dimana anggota dari organ ekstra itu yang seharusnya disalahkan bukan organisasinya.
          Jadi berorganisasi itu bukan hanya sekedar ingin mengunjukan eksistensi kita akan tetapi sebuah kebutuhan karena di organisasi kita diajarkan banyak hal dan apa arti dari dunia ini. karena percayalah ketika terjun ke masyarakat nanti bukan ipk mu yang ditanya bukan cepat atau tidaknya kamu lulus kuliah, melainkan apakah kamu bisa membuat sebuah acara, bisakah kamu mengorganisir masyarakat, bisakah kamu menjadi sebuah pemimpin dimasyarakat. Dan itu semua didapatkan di organisasi. itu lebih tepatnya yang di butuhkan masyarakat ketimbang angka ipk mu. Akan tetapi perlu digaris bawahi akademisi bukan suatu hal yang harus dilupakan dan diabaikan, terlalu bodoh seorang organisatoris jikalau lebih mengedepankan kesibukannya berorganisasi tanpa menyeimbangkannya dengan akademisi dan perlu di pertanyakan sudah lulus atau belum berorganisasinya. Karena kita selalu di tanamkan sikap professional dimana organisatoris bisa memanage waktunya kapan harus kuliah dan kapan harus beroganisasi. Ikutilah organisasi dikampus anda jangan pernah menilai sebelum masuk kedalamnya jangan mengamini kata orang jika kita belum mencoba. Carilah organisasi yang besar yang produktif minimal anda bisa melihat di jurusan anda masing masing organisasi mana yang banyak diikuti oleh teman atau senior senior kalian, karena jangan pernah bunuh diri, memasuki organisasi yang jarang diikuti. Karena tidak ada asap tanpa api pasti ada penyebab mengapa organisasi itu jarang diminati.
          Musuh terbesar mahasiswa di era ini ialah keapatisan mahasiwa terhadap organisasi. Jangan sampai anda menjadi rombongan mahasiswa mahasiswa itu, konklusinya berorganisasi itu kebutuhan bukan hanya sekedar eksistensi sana sini. Pilihlah dengan hati kalian bukan dengan paksaan organisasi mana yang harus saya ikuti dan lihatlah isi dari mahasiswanya membuat kalian termotivasi atau tidak. Jangan pernah anda mau dibohongi senior senior anda cukup anda yang sendiri lah yang bisa menentukan organisasi mana yang akan anda ikuti. Dan pesan saya jangan pernah bunuh diri carilah organisasi yang menjamin anda tidak pada ketidak jelasan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar